Sabtu, 23 Juli 2016

kepo?

Kepo?

Kepo? Keppo? Keppow?
Iya.. kepo. Apasih kepo itu?
Ciyeee, udah mulai kepo :D muehehe

Kepo, kepo adalah sebuah ungkapan utnuk menggambarkan rasa keingintahuan yang teramat sangat ingin tau. Kalau dipersentasikan mungkin rasa ingin tahunya bisa mecapai lebih dari 80% *ups
Kepo saat ini merajalela. Sampai ada yang menyatakan, ‘kalo dulu malu bertanya sesat di jalan. Kalo sekarang nanya dikit dibilang kepo’ .

Jadi, bagaimana sih Islam menanggapi tentang per-kepo-an ini?  Check this out
Kepo secara umum dapat kita bagi menjadi 2; kepo positif dan kepo negative.
Kepo positif adalah rasa keingintahuan dalam hal-hal yang baik, seperti saat menghadiri majelis ilmu. HR. Abu Daud, ‘sesungguhnya obat dari ketidak tahuan adalah bertanya’.
Berangkat dari sini, kita diperbolehkan untuk kepo. Kepo dalam kebaikan, kepo dalam belajar, kepo dalam mencari tahu suatu kebaikan. Bahkan rasulullah SAW. Pernah bertanya kepada Bilal bin Rabbah. Bagaimana terompah (sandal/sepatu)nya sudah berada di surga sedang ianya masih hidup di bumi? Karena bilal bin Rabbah selalu menjaga wudhunya hingga menjadi amal unggulannya.
Firman Allah dalam QS Al-Ahzab:21 “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu. Nah, bagaimana kita mengetahui apa-apa saja yang ada pada diri Rasulullah SAW kalau kita ngga ngepoin shiroh nabi? Kita tahu darimana kalau Rasulullah itu pribadi yang baik akhlaknya? Yang cerdas akalnya? Yang kuat fisiknya? Yang baik aqidah dan imannya?
Kedua, kepo negative adalah rasa keingintahuan atas hal-hal yang kurang baik, yang sia-sia, yang tidak berguna, bahkan bisa jadi ujung-ujungnya dosa. Na’udzubillahimindzalik.
Berangkat dari Firman Allah ”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain (tajassus), dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain.” (QSAl Hujurat: 12) dan HR Tirmidzi, dimana Rasul pernah berkata “diantara tanda – tanda kebaikan islam nya seseorang adalah dia meninggalkan sesuatu yang tidak baik bagi diri nya”
Kepo akan hal-hal yang tidak berguna dan tidak bermanfaat ini bisa menjatuhkan kita pada dosa. Contohnya kalo kita lagi di kampus deh. Ada cewe cowo yang jalan berduaan, pasti ada rasa kekepoan yang muncul; eh mereka pacaran ya? Udah brapa lama ya? Kok ga heboh ya di kampus? Waaah apa mereka diem-diem uda jadian ya? Kok bisa ya? *ceksemuasocmedyangada* wes, mereka kemarin berduaan foto. Mereka nanana blablabla bliblibli blublublu.
GLEK! Selain kepo ternyata kita uda kejebak sama godaan setan yang lain; menggunjing dan suudzon. Ininih yang susah. Kita susah menjaga pikiran kita yang bisa meliar karna hal kecil, yang bisa bikin kita mikir ini-itu. Apalagi kalo ditambah rasa ingin tahu yang mendalam dengan mencari tau ditempat yang salah (read: engga tabayun sama si target atau orang yang tau).
Jadi……. Intinya…….adalah……… Kepo itu boleh, asal? Pada tempatnya. Asal? Pada porsinya. Asal? Ada manfaatnya. Yang penting kita bisa menempatkan kepo kita di dalam kebaikan dan tidak merugikan siapapun. Satu lagi, kalo ada yang ngepoin kita langsung, jangan dibilang kepo ya. Mungkin si dia lagi mau tabayyun. Yaaa daripada dia ngepoin kita sama orang lain kan yaaa :D yang perlu diinget juga, dalam hal perkepoan dan pertabayunan, kita juga ga boleh lepas dari koridor islam loh ya. Tetep menjaga kesopanan dan apabila bertabayun sama lawan jenis juga kudu tetep mesti jaga jarak.
“Jangan mengawasi oranglain, jangan mengintai geraknya, jangan membuka aibnya, jangan menyelidikinya. Sibuklah dengan diri kalian, perbaiki aibmu. Karena kamu akan di tanya Allah tentang dirimu, bukan tentang orang lain.” (Sayyidina Ali Bin Abi Thalib r.a).
Yuk istighfar sama-sama.
astaghfirullahaladzim
astaghfirullahaladzim
astaghfirullahaladzim

Semoga Allah mengampuni kekepoan kita yang lalu-lalu dan semoga gada kekepoan negative lain yang kita perbuat setelah ini. Afwan minkum.